Showing posts with label listrik. Show all posts
Showing posts with label listrik. Show all posts

Wednesday, November 7, 2012

Pengaman Dalam Instalasi Listrik



Pengaman Listrik biasa disebut dengan sekering atau fuse, adalah adalah suatu alat yang digunakan sebagai pengaman dalam suatu rangkaian listrik apabila terjadi kelebihan muatan listrik atau suatu hubungan arus pendek. Cara kerjanya apabila terjadi kelebihan muatan listrik atau terjadi hubungan arus pendek, maka secara otomatis sekering tersebut akan memutuskan aliran listrik dan tidak akan menyebabkan kerusakan pada komponen yang lain. Hubungan arus pendek / korsleting adalah suatu hubungan dengan tahanan listrik (Ω) yang sangat kecil akan mengakibatkan aliran listrik (I) yang sangat besar dan bila tidak ditangani dapat mengakibatkan ledakan dan kebakaran.
Hal ini terjadi apabila terjadi antara sumber listrik Phase (+) yang bertemu atau sumber listrik negatif. Dimana menghasilkan
Tahanan listrik sangat kecil atau sama dengan 0 Ohm (Ω).
Sesuai dengan rumus dasar dari listrik yaitu :
V = I x R
Atau

I =
V
R
Atau

R =
V
I
Dimana :

V = Tegangan / Voltage ( V / Volt )
I = Arus Listrik ( A / Ampere )
R = Nilai Tahanan Beban ( Ω / Ohm)

Dari Rumus diatas kita bisa mengetahui bahwa nilai dari
Arus Listrik (I) akan selalu berbanding terbalik dengan nilai tahanan beban (Ω) dengan nilai Tegangan (V) tidak berubah.
Coba kita perhatikan gambar dibawah ini :
Bila dihitung dengan rumus :
I  = 
V
R
= 
220
V
100 Ω
= 
2.2 A
Bila dihitung dengan rumus :
I  = 
V
R
= 
220
V
0 Ω
= 
Tak Terhingga
Nilai tak tak terhingga / tak terukur ini akan menyebabkan terjadinya panas pada kabel yang berakibat pada kabel tersebut akan terbakar. Oleh karena itu, Untuk menghindari terjadinya hubung singkat, kita perlu untuk memasang pengaman yang dapat membatasi arus Listrik agar tidak terjadi kelebihan arus. Dalam dunia kelistrikan ada bermacam - macam pengaman listrik antara lain MCB (Miniature Circuit breaker), MCCb (Moulded Case Circuit Breaker), ACB (Air Circuit Breaker), Fuse Tabung, Sekring dll. Dibawah ini adalah gambar beberapa contoh pengaman listrik yang paling sering digunakan dalam dunia kelistrikan :
Fuse
Sekering
Sekering Tabung
MCB
MCCB
ACB
MCB
Cara kerja MCB dalam memutuskan arus listrik berbeda dengan Fuse / sekering. Hal ini dikarenakan MCB mempunyai 2 cara pemutusan
arus listrik yaitu :
  • Berdasarkan panas Pemutusan arus listrik berdasarkan panas, dikarenakan MCB mempunyai plat Bimetal (perpaduan dua buah logam yang berbeda koefisien muai logamnya). Bimetal ini akan melengkung apabila terjadi panas yang terus meningkat yang di akibatkan oleh kelebihan arus listrik. Kemudian Plat bimetal ini akan menggerakkan tuas pemutus untuk memutuskan arus listrik.
  • Berdasarkan elektromagnetik Pemutusan arus listrik berdasarkan elektromagnetik dilakukan oleh Coil yang terdapat pada MCB. Apabila terjadi Hubung Singkat maka Coil akan terinduksi dan daerah sekitarnya akan terdapat medan magnet sehingga akan menarik poros dan mengoperasikan tuas pemutus.
Lalu bagaimana cara kita untuk menghidupkan listrik kembali ?
Caranya sederhana kita pastikan terlebih dahulu instalasi kita sudah benar dan tidak ada lagi hubung singkat dan beban lebih, kemudian kita tunggu sampai MCB dingin, lalu kita naikkan kembali tuas pemutus MCB. Hal ini sangat berbeda dengan Fuse / sekring, bila MCB trip / turun (istilah di dunia kelistrikan), kita tidak usah mengganti dengan yang baru. Cukup menaikkan tuas pemutus dan listrik kita kembali hidup.
Adapun fungsi - fungsi dari MCB adalah :
  • Membatasi Penggunaan Listrik
  • Mematikan listrik apabila terjadi hubungan singkat ( Korslet )
  • Mengamankan Instalasi Listrik
  • Membagi rumah menjadi beberapa bagian listrik, sehingga lebih mudah untuk mendeteksi kerusakan instalasi listrik
Semoga Tulisan ini bemanfaat bagi pembaca…

Saturday, August 11, 2012

Cara Hitung Pemakaian Listrik


1. Sudah tahu kan yang namanya kwh Meter ?
Umumnya kita menyebutnya sebagai meteran listrik. Kalau belum tahu, yang begini bentuknya


Watt = (3600 x Jumlah Putaran) / (Konstanta x Waktu Putaran) x 1000h. Kalo sudah, untuk menghitung besarnya Watt yang kita pakai adalah =
  
2. Yang perlu diperhatikan dari kwh Meter tersebut adalah putaran dari piringan kwh.
Semakin banyak alat listrik yang agan gunakan, maka putaran kwh Meter tersebut akan semakin cepat. Itu artinya daya aktif (watt) yang agan pakai juga semakin banyak, itu berarti pula angka di stand kwh meter akan semakin cepat bertambah.
3. Kecepatan putaran piringan kwh Meter inilah yang akan kita hitung dengan stopwatch.
Untuk menghitung putaran piringan kwh Meter agan harus memperhatikan tanda berwarna hitam pada piringan kwh Meter. Tanda hitam inilah yang menjadi patokan mulai dan berhenti saat menghitung putarn piringan kwh Meter.
4. Selain putaran piringan kwh Meter, yang perlu agan catat adalah konstanta dari kwh meter tersebut.
Coba lihat di nam plate kwh Meter, disana akan ditemukan banyak spesifikasi dari meteran listrik tersebut. Konstanta kwh Meter selalu diikuti satuan Putaran/kwh atau Put/kwh. Sebagai contoh adalah konstanta 900 Put/kwh. Maksudnya, untuk menghasilkan angka 1 kwh di stand meter piringan kwh harus berputar sebanyak 900 kali. Konstanta kwh Meter berbeda-beda, jadi harus melihat langsung di name plate kwh Meter tersebut. Konstanta yang umum adalah 900 Put/kwh, 1250 Put/kwh, 720 Putkwh dan 600 Put/kwh.
5. Kalo sudah paham, langsung praktek aja gan....
a. Perhatikan name plate kwh Meter di rumah agan, carilah konstanta dari KWH meter tersebut. Catat hasilnya, misal : 900 Put/kwh
b. Siapkan stopwatch, jika agan gag punya bisa gunakan stopwatch yang ada di HandPhone.
c. Perhatikan putaran piringan kwh Meter. Tunggu sampai muncul warna hitam di piringan kwh Meter.
d. Saat tanda hitam muncul dan posisi tepat di tengah, tekan tombol START pada stopwatch.
e. Tunggu sampai tanda hitam muncul lagi, itu artinya piringan kwh meter sudah berputar 1 kali. Untuk perhitungan biasanya jumlah putaran minimal 3 kali.
f. Tekan tombol STOP pada stopwatch setelah agan mendapatkan jumlah putaran yang agan inginkan.
g. Catat waktunya (dalam detik), misal dari pengukuran diperoleh hasil 3 putaran = 43,52 detik.
 Sebagai contoh pengukuran di atas :
Watt = (3600 x 3) / (900 x 43,52) x 1000
= 0,275 x 1000
= 275 Watt.

Artinya, pada saat pengukuran tadi kita sedang menggunakan daya listrik sebanyak 275 Watt. Untuk memperkirakan pemakaian satu bulan (dengan asumsi pemakaian adalah sama seperti saat pengukuran sepanjang hari); tinggal dikalikan 0,72 (dari 24 jam x 30 hari / 1000), nanti munculnya dalam bentuk kwh. Misal untuk pengukuran di atas, 275 x 0,72 = 198 kwh/bulan.
 Cara menghitung Rp/kwh
kwh (kilowatt – Hour) berarti energi yang digunakan selama 1 jam pemakaian.
1 kwh = energi sebesar 1 kilowatt (1000 watt) digunakan selama 1 jam.

Jadi, lampu 40W selama 1 jam = 40Wh (watt-hour) = 0.04 kwh (kilowatt-hour).
Makanya kalo 1 kwh = Rp.500 40 wh = 40 / 1000 x 500 = Rp 20 (bukan 40 x 1000)

Bedakan antara watt-hour dengan watt :
Watt = Joule / detik.
Lampu 40W = lampu tsb, mengkonsumsi energi listrik sebesar 40 Joule setiap detiknya.
Kalau lampu dinyalakan selama 1 jam = energi listrik yang dikonsumsi adalah 40 Wh (watt-hour), yang sebenarnya sama dengan 40 Joule/detik x 3600 detik = 144000 Joule.

Sebenarnya berapa Rupiah sih per kwh ?


Dengan melakukan pengukuran secara langsung kita baru benar-benar tahu berapa perkiraan Watt yang sebenarnya digunakan.
Sebagai catatan, yang terukur disini adalah daya aktif (Watt) yang terukur oleh Kwh Meter, bukan VA (daya semu) yang dijadikan patokan daya kontrak. Ketelitian pengukuran sangat tergantung pada ketelitian kita saat mengukur waktu putaran dan tentu saja ketelitian dari Kwh Meter itu sendiri.